Journey To The West Official Forum Site
WELCOME TO THE JOURNEY TO THE WEST OFFICIAL FORUM SITE.

IF YOU DO NOT REGISTER ON THIS FORUM PLEASE CLICK "REGISTER". IF YOU ALREADY REGISTERED PLEASE CLICK "LOGIN". IF BOT DONT PLEASE CLICK "DO NOT SHOW AGAIN"



 
IndeksPortalGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Cerita-Cerita Menginspirasi 5 5 15
Share | 
 

 Cerita-Cerita Menginspirasi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Cerita-Cerita Menginspirasi   Wed Mar 03, 2010 7:45 pm

* Ini saya dapatkan dari forum tetangga, Ya Semoga bisa menginspirasi kita semua agar bisa lebih baik lagi di masa depan. Amin.*

Tangis untuk adikku

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah
kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Yang mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana
semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku
mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera
menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di
depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak
mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba,
adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang
melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan napas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami
dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di
masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu
pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami.
Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air
mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba
mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku
dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis
lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah
lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru
kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika
ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku
berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat
yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas
provinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap
rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya
memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik,hasil yang begitu baik" Ibu mengusap air matanya yang
mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana
mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan
berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,
telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada
wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu ganteng
lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di
jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai
selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu
untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut
yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau
tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan
ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian
lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia
menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik
kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas
tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan
mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan
menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada
punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke
tahun ketiga. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku,
ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada
seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan
keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya
kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya,
"Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu
adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku.
Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah
adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat
dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun!
Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus
menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik
adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun
itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela
yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di
mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti
gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu
menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah
kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah
adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.
Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka
ketika memasang kaca jendela baru itu."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya
yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku
mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut
lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku
memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke
wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan
tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak
akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga
ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada
departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran
tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja
reparasi.
Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki
sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan
masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa
kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah
harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat
kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak
mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. "Pikirkan kakak ipar --ia baru saja jadi
direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya
menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan
dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang
pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya,
pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang
paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia
menjawab, "Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah
yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi
sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari
kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke
sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan
satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari
kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan
sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu
gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak
dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah,
selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam
hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah
adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,
di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun
dari wajahku seperti sungai.

(Dari "I cried for my brother six times")
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Wed Mar 03, 2010 7:51 pm

Belajar Cinta Dari Cicak

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah,
seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki
ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok
mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang
kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu,
ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi?
Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikit pun, itu adalah
sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun
tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu!
Bagaimana dia makan?

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu.
Apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.
Kemudian, tidak tahu dari mana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya.... AHHHH!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang
selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.

Sungguh
ini sebuah cinta, cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada
hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan
oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu tidak
pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya
selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat
memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Lovely You As A Cold Ice, Hunny
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Wed Mar 03, 2010 8:10 pm

IMPIAN SEORANG MAHASISWI

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang
kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri
dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya.
Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput,
memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah.

Ia menyapa, "Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh.
Maukah kamu memelukku?" Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya,
"Tentu saja boleh!".
Diapun memberi saya pelukan yang sangat erat.
"Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih muda dan tak berdosa
seperti ini?" tanya saya berolok-olok.

Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang
kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."

"Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah
memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.
"Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya
sedang mengambilnya!" katanya.

Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan
berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. Dalam tiga bulan
kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada
henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagai pengalaman dan
kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan
dengan mudah dia berkawan dengan siapapun.Dia suka berdandan dan segera
mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali
menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan
malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang
diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia
mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu
pidatonya terjatuh ke lantai.

Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Saat kami
tertawa dia membersihkan kerongkongannya dan mulai, "Kita tidak pernah
berhenti bermain karena kita tua; kita menjadi tua karena kita berhenti
bermain. Hanya ada empat rahasia untuk tetap awet muda, tetap bahagia, dan
meraih sukses. Kamu harus tertawa dan menemukan humor setiap hari. Kamu
harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada
banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun tidak
mengetahuinya!"

Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa.

Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama
satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi
dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di
tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan
menjadi delapan puluh delapan.

Setiap orang pasti menjadi tua.
Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat.

Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan. Jangan
pernah menyesal.Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa
yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami
perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan
penyesalan.

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose".
Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya
dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa
tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai.

Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai
penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan
teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan.

Ingatlah, menjadi tua adalah keharusan, menjadi dewasa adalah pilihan.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Wed Mar 03, 2010 8:26 pm

[ Renungan ] Kisah Sepotong Kue

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam.
Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba.
Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk.
Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya.
Dalam keasyikannya, ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani
mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.
Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam.
Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya.
Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.

Wanita itupun sempat berpikir: "Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!".
Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu.
Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa
yang akan dilakukan lelaki itu.
Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua.
Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi.
Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir: “Ya ampun orang ini berani
sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih”.
Belum pernah rasanya ia begitu kesal.
Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan.

Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang.
Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih".
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya.
Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget.
Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya !!!
Koq milikku ada disini erangnya dengan patah hati.
Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi.
Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih.
Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih.
Dan dialah pencuri kue itu !!!

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi.
Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita
sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.


Orang lainlah yang selalu salah
Orang lainlah yang patut disingkirkan
Orang lainlah yang tak tahu diri
Orang lainlah yang berdosa
Orang lainlah yang selalu bikin masalah
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran

Padahal

Kita sendiri yang mencuri kue tadi
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.


Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain.
Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.


Sumber : http://www.*Forbidden*.us/showthread.php?t=1295342 Handai-Tolan
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Thu Mar 04, 2010 7:08 am

Pidato menakjuban anak 12 tahun di ruang sidang PBB


Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki,
seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental
Children's Organization ( ECO ).
ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri
untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah
lingkungan.
Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB,
dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah
pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa
pemimpin dunia terkemuka.
Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga
bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai
ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan
tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.
Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)
Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental
Children Organization
Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12
dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga,
Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk
bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda
sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di
sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan
masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum
atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi
semua generasi yg akan datang.
Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia
yang tangisannya tidak lagi terdengar.
Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat
yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan
habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.
Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena
saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.
Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa
tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.
Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu
persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.
Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar
binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan
burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal
tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.
Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini
ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?
Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua
pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki
semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa
anda sekalian juga sama seperti saya!
Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai
asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang
telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di
tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak
tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!
Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota
perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah
ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi
- dan anda semua adalah anak dari seseorang.
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua
adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih
dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi
udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan
tidak akan mengubah hal tersebut.
Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita
semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu
untuk tujuan yang sama.
Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak
ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami
membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.
Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi
dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.
Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan
dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda,
komputer dan perlengkapan televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami
menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah
satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku
kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan
makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih
sayang " .
Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih
begitu serakah?
Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia
sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan
yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari
anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak
yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau
pengemis di India .
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua
uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat
kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa
indah jadinya dunia ini.
Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk
berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan
orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang
kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk
berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang
anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?
Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda
melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah
yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua
seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan
mengatakan, " Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang
terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari
segalanya.”
Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut
kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda
semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena
perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.
Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya
menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.
Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***********
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi
PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya
dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang
yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan
yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.
Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:
" Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri
karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan
isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju
berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato.
Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh
asisten saya kemarin. Saya ... tidak kita semua dikalahkan oleh anak
yang berusia 12 tahun "
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Thu Mar 04, 2010 7:16 am

Kisah 2 Manusia Super Ibukota

Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki
mengarungi untuk mencoba menaklukan ibukota negeri ini. Semoga kita
selalu diingatkan, sekedar berbagi cerita di forum orang – orang super
dalam keindahan hari ini. Siang itu 13 Pebruari 2008, tanpa sengaja
saya bertemu dua manusia super.
Mereka makhluk – makhluk kecil, kurus,
kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberagan
Harmoni, dua sosok kecil berumur kira – kira delapan dan sepuluh tahun
menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang
untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan
keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar –
lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan
ucapan “Terima kasih Om…!” Dan saya masih tak menyadari kemuliaan
mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah
mereka. Kaki – kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan,
menyapa seorang laki – laik lain itupun menolak dgn gaya yang sama dgn
saya, lagi – lagi sayup – sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari
mulut kecil mereka, kantong hitam tempat stock tissue daganggan mereka
tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta.
Saya melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, dua
pertiganya terisi tissue putih berbalut plastik transparan. Setengah
jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah
mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat
berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut di langit
Jakarta. “Terima kasih ya Mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!”
tukas mereka, tak lama si wanita meronggoh tasnya dan mengeluarkan uang
sejumlah sepuluh ribu rupiah. “Maaf, nggak ada kembaliaanya. .. ada
uang pas nggak Mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut, si Mbak
menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih besar
menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat
meter. “Om boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan…? suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit
terhenyak saya merongoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa
kembalian Food Court sebesar empat ribu rupiah. “Nggak punya, tungkas
saya…!” lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya,
dik…!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung
sebelah timur.
Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakannya
kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita
tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget
setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, gak apa – apa ambil
saja…!” namum mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf Mbak,
cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan.. !”
Akhirnya uang itu diterima si wanita tersebut karena si kecil pergi
meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu
di genggam saya tentu bukan sepenuhnya milik saya.
Mereka menghampiri saya dan berujar “Om.. tunggu ya, saya kebawah
dulu untuk tukar uang ke tukang ojek..!”. “Eeeeh.. nggak usah… nggak
usah… biar aja…, nih…!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya
tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam
menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi
dihentikan oleh anak satunya, “Nanti dulu om, biar ditukar dulu…
sebentar”. “Nggak apa – apa…, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan…
jangan om, itu uang om sama Mbak yang tadi juga” anak Itu
bersikeras. “Sudah nggak apa – apa…. saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti
ikhlas!” saya berusaha menghalangi, namum ia menghalangi saya sejenak
dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera
cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan
berlari ke arah saya. “Ini deh Om …. kalau kelamaan, maaf ya…” ia
memberikan saya 8 pack tissue. “Lho buat apa…?” saya terbenggong.
. “Habis teman saya lama sich Om.. maaf tukar pakai tissue aja
dulu” Walau dikembalikan ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya,
perasaan bersalah muncul pada rona mukanya.
Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam
tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah
kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu dan mengambil tissue
dari tangan saya serta memberikan uang empat ribuan. “Terima kasih
Om…!” mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup – sayup terdengar
percakapan.. ..”Duit Mbak tadi bagaimana ya..?” suara kecil yang lain
menyahut “Lu hafal kan orangnya, kali aja kita ketemu lagi ntar kita
berikan uangnya” Percakapan itu sayup – sayup menhilang, saya terhenyak
dan kembali ke kantor dengan seribuperasaan.
Tuhan …. hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh dan terharu,
mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus
sutra. Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak
meminta minta tap dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan
belum akil balik, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu sangat
belia. Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin
sedikitpun berkurang rejeki kita meski dalam rejeki itu sebetulnya ada
hak atau milik orang lain…. “Usia memang tidak menjamin kita menjadi
bijaksana tapi kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau
tidak” `YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO“ENGKAU HANYA SEMULIA
YANG ENGKAU KERJAKAN`
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Thu Mar 04, 2010 7:23 am

Kasih Sayang Seorang Ibu

Apa sumber motivasi terbesar dalam hidup? Mungkin jawaban yang tepat
adalah CINTA!! Cinta di sini bukan hanya berarti hubungan sepasang
insan berlainan jenis, namun lebih kepada cinta universal. Cinta
seorang ibu / ortu pada anaknya atau sebaliknya.. Inilah kekuatan
terbesar yang dimiliki yang bisa menjadi sumber motivasi bagi semua
orang.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar”
———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan
bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu
duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel
di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku
melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku
dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia
berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah
abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak
mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit
uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku
bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil
dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku
berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak
penat”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak
dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat
ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu
sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah
dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak
mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada
duit”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM

Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat
master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti
ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta.
Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan
tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika.
Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia
berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus,
harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera
atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku
melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani
pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh
kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku
karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu
menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering.
Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali
melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya
berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya
percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali
mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah
berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah
kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu
kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu
mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang
kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika
dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan
pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita,
risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila
di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari
orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau
apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau
ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai
kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik.
Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.



Tetap Sayangi Ibu Kita Ya....
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Forum_Master™
Admin & Creator
Admin & Creator


Aries
Points 2747
Reputation 34
Posts: 113
Birthday: 18.04.90
Join date: 04.02.10
Age: 24
Location: Bogor

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Thu Mar 04, 2010 8:15 am

Dewi Salju wrote:
* Ini saya dapatkan dari forum tetangga, Ya Semoga bisa menginspirasi kita semua agar bisa lebih baik lagi di masa depan. Amin.*

Tangis untuk adikku

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah
kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Yang mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana
semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku
mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera
menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di
depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak
mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba,
adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang
melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan napas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami
dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di
masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu
pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami.
Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air
mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba
mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku
dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis
lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah
lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru
kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika
ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku
berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat
yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas
provinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap
rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya
memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik,hasil yang begitu baik" Ibu mengusap air matanya yang
mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana
mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan
berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,
telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada
wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu ganteng
lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di
jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai
selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu
untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut
yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau
tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan
ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian
lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia
menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik
kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas
tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan
mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan
menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada
punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke
tahun ketiga. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku,
ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada
seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan
keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya
kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya,
"Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu
adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku.
Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah
adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat
dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun!
Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus
menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik
adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun
itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela
yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di
mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti
gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu
menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah
kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah
adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.
Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka
ketika memasang kaca jendela baru itu."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya
yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku
mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut
lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku
memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke
wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan
tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak
akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga
ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada
departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran
tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja
reparasi.
Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki
sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan
masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa
kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah
harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat
kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak
mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. "Pikirkan kakak ipar --ia baru saja jadi
direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya
menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan
dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang
pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya,
pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang
paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia
menjawab, "Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah
yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi
sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari
kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke
sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan
satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari
kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan
sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu
gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak
dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah,
selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam
hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah
adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,
di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun
dari wajahku seperti sungai.

(Dari "I cried for my brother six times")


Sumpah.... Sedih bgt bacanya.... aq sampe nitikin air mata nih walopun ditahan2...! Kebetulan ceritanya mirip2 sama kisah hidup aq Sist Dewi..! Aq jg punya kk ce! Sekarang aq sadar betapa berharganya kepedulian seorang adik kepada kknya begitu jg sebaliknya!

Izin share di FB ya!

I LOVE MY FAMZ... ALWAYS...
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Forum_Master™
Admin & Creator
Admin & Creator


Aries
Points 2747
Reputation 34
Posts: 113
Birthday: 18.04.90
Join date: 04.02.10
Age: 24
Location: Bogor

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Thu Mar 04, 2010 8:20 am

Dewi Salju wrote:
Belajar Cinta Dari Cicak

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah,
seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki
ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok
mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang
kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu,
ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi?
Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikit pun, itu adalah
sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun
tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu!
Bagaimana dia makan?

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu.
Apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.
Kemudian, tidak tahu dari mana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya.... AHHHH!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang
selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.

Sungguh
ini sebuah cinta, cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada
hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan
oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu tidak
pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya
selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat
memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Lovely You As A Cold Ice, Hunny



Sebelum aq baca ini aq menganggap CINTA ITU OMONG KOSONG... tp... baru aq sadarin qlo cinta itu indah n bener2 berharga dalam kehidupan. Tanpa cinta tak terbayangkan bagaimana bentuk kehidupan saat ini! Aq kasih Ijo2 yaa semua treadh ini! Khusus Treadh ini semua postingannya aq anggap BEST!!
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Forum_Master™
Admin & Creator
Admin & Creator


Aries
Points 2747
Reputation 34
Posts: 113
Birthday: 18.04.90
Join date: 04.02.10
Age: 24
Location: Bogor

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Thu Mar 04, 2010 8:24 am

Dewi Salju wrote:
Kasih Sayang Seorang Ibu

Apa sumber motivasi terbesar dalam hidup? Mungkin jawaban yang tepat
adalah CINTA!! Cinta di sini bukan hanya berarti hubungan sepasang
insan berlainan jenis, namun lebih kepada cinta universal. Cinta
seorang ibu / ortu pada anaknya atau sebaliknya.. Inilah kekuatan
terbesar yang dimiliki yang bisa menjadi sumber motivasi bagi semua
orang.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar”
———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan
bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu
duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel
di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku
melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku
dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia
berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah
abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak
mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit
uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku
bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil
dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku
berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak
penat”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak
dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat
ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu
sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah
dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak
mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada
duit”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM

Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat
master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti
ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta.
Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan
tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika.
Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia
berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus,
harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera
atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku
melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani
pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh
kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku
karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu
menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering.
Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali
melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya
berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya
percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali
mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah
berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah
kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu
kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu
mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang
kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika
dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan
pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita,
risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila
di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari
orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau
apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau
ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai
kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik.
Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.



Tetap Sayangi Ibu Kita Ya....


Sist ga tahaaaaaaan bacanya...! Belom baca sampe abis aq jd inget nyokap!

LOVE U MOM.... DEMI KAU IBU WALOPUN AQ HARUS MENGORBANKAN NYAWAKU DEMI MEMBAHAGIAKANMU AQ RELA.... !
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Fri Mar 05, 2010 7:18 am

Terimakasih kepada FM dan semua saudara2 ku para Isist dan Ibro yang sudah berkenan membaca dan memberi kritik/saran serta menyukai cerita2 yang saya posting.

Saya sangat mengharapkan apa yang saya posting disini bermanfaat dan bisa menginspirasi kita semua menjadi lebih baik di masa depan. Amin.


Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Fri Mar 05, 2010 7:28 am

Cerita Tentang Pohon, Daun dan Angin

Pohon

Orang2 memanggilku "POHON" karena aku sangat baik dalam menggambar
pohon.

AKU selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark
pada semua lukisanku.

AKU telah berpacaran sebanyak 5 kali...

Ada satu wanita yang sangat AKU cintai..tapi AKU tidak punya keberanian
untuk mengatakannya...

Dia tidak cantik..tidak memiliki tubuh yang sexy..

Dia sangat peduli dengan orang lain..religius tapi..dia hanya wanita
biasa saja.

AKU menyukainya..sangat menyukainya..Gayanya yang innocent dan apa
adanya..kemandiriannya..kepandaiannya dan kekuatannya...

Alasan AKU tidak mengajaknya kencan karena...

AKU merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku...

AKU takut...jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan
hilang...

AKU takut kalau gosip2 yang ada akan menyakitinya...

AKU merasa dia adalah "sahabatku"...

AKU akan memilikinya tiada batasnya...tidak harus memberikan semuanya
hanya untuk dia...

Alasan yang terakhir..membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan
selama 3 tahun ini...

Dia tau AKU mengejar gadis2 lain dan AKU telah membuatnya menangis
selama 3 tahun...

Ketika AKU mencium pacarku yang ke-2 terlihat olehnya...

Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah..."lanjutkan saja" katanya,
setelah itu pergi meninggalkan kami.

Esoknya, matanya bengkak..dan merah...

AKU sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis...

but AKU tertawa...bercanda dengannya seharian di ruang itu...

Di sudut ruang itu dia menangis...dia tidak tau bahwa AKU kembali untuk
mengambil sesuatu yang tertinggal...

Hampir 1 jam kulihat dia menangis disana....

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya...

Pernah sekali mereka berdua perang dingin, AKU tau bukan sifatnya untuk
memulai perang dingin...

Tapi AKU masih tetap bersama pacarku...

AKU berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan
kaget...

AKU tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama
pacarku...

Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang
terjadi sebelumnya...

AKU tau dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit
hatiku sama buruknya dengan dia...

AKU juga sedih...

Ketika AKU putus dengan pacarku yang ke 5, AKU mengajaknya pergi...

Setelah kencan satu hari itu, AKU mengatakan bahwa ada sesuatu yang
ingin kukatakan padanya...

Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan
sesuatu padaku...

AKU cerita tentang putusnya AKU dengan pacarku...

Dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang...

AKU tau pria itu...dia sering mengejarnya selama ini...Pria yang baik,
penuh energi dan menarik...

AKU tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku, AKU hanya tersenyum dan
mengucapkan selamat padanya...

Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan AKU tidak dapat
menahannya...

Seperti ada batu yang sangat berat didadaku...AKU tak bisa bernapas dan
ingin berteriak namun apa daya...

Air mataku mengalir tak terasa aku menangis karenanya...

Sudah sering AKU melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan
kehadirannya...

Handphoneku bergetar...ternyata ada SMS masuk...SMS itu dikirim 10 hari
yang lalu ketika aku sedih dan menangis...

SMS itu berbunyi,"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON
tidak memintanya untuk tinggal?"

***********************************************************

DAUN

AKU suka mengoleksi daun-daun, kenapa ?

Karena AKU merasa bahwa DAUN untuk meninggalkan pohon yang selama ini
ditinggali membutuhkan banyak kekuatan.

Selama 3 thn AKU dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi
"Sahabat" .

Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya...

AKU mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari
sebelumnya - CEMBURU...

Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon.

Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama 2
bulan...

Ketika mereka putus, AKU menyembunyikan perasaan yang luar biasa
gembiranya.

Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi...

AKU menyukainya dan AKU tau bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia
tidak mau mengatakannya?

Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk
melangkah?

Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku sedih...

Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sedih dan kecewa...

AKU mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan...

Tapi..mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekedar seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati...AKU tahu
kesukaannya...kebiasaannya...

Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui...

Kau tidak mengharapkan AKU seorang wanita untuk mengatakannya bukan ?

Diluar itu, AKU mau tetap disampingnya...memberinya
perhatian...menemani...dan mencintainya...

Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku...

Hal itu seperti menunggu telephonenya tiap malam...mengharapkan
mengirimku SMS...

AKU tau sesibuk apapun dia, pasti meluangkan waktunya untukku...

Karena itu, AKU menunggunya...3 tahun cukup berat untuk kulalui dan AKU
mau

menyerah...Kadang AKU berpikir untuk tetap menunggu...

Dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini...

Akhir tahun ke-3, seorang pria mengejarku...setiap hari dia mengejarku
tanpa lelah...

Segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan
dariku...

AKU berpikir...apakah aku ingin memberikan ruang kecil dihatiku untuknya
?!..

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk
terbang dari pohon...

Akhirnya, AKU sadar bahwa AKU tidak ingin memberikan Angin ini ruang
yang kecil di hatiku...

AKU tau Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ketempat yang
lebih baik...

Akhirnya AKU meninggalkan Pohon...tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak
memintaku untuk tinggal...

AKU sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku...

"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya
untuk tinggal?"

*************************************************************

ANGIN

AKU menyukai seorang gadis bernama Daun...karena dia sangat bergantung
pada Pohon..jadi aku harus menjadi ANGIN yang kuat...

Angin akan meniup Daun terbang jauh...

Pertama kalinya..AKU melihat seseorang memperhatikan kami...

Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman2nya
memerhatikan Pohon...

Ketika Pohon berbicara dengan gadis2, ada cemburu dimatanya...

Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya...

Memperhatikannya menjadi kebiasaanku...seperti daun yang suka melihat
Pohon.

Satu hari saja tak kulihat dia...AKU merasa sangat kehilangan...

Di sudut ruang itu, kulihat pohon sedang memperhatikan daun...

Air mengalir di mata daun ketika Pohon pergi...

Esoknya...Ku lihat Daun di tempatnya yang biasa, sedang memperhatikan
Pohon...

AKU melangkah dan tersenyum padanya...Kuambil secarik kertas..kutulis
dan kuberikan padanya...

Dia sangat kaget...

Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima kertas dariku...

Esoknya...dia datang...menghampiriku dan memberikan kembali kertas
itu...

Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu
karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon.

AKU melihat kearahnya...kuhampiri dengan kata2 itu...

Sangat pelan...dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku dan
telponku...

AKU tau orang yang dia cintai bukan AKU...tapi AKU akan berusaha agar
suatu hari dia menyukaiku...

Selama 4 bln, AKU telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20x
kepadanya...

Hampir tiap kali dia mengalihkan pembicaraan...tapi AKU tidak
menyerah...

Keputusanku bulat....AKU ingin memilikinya...dan berharap dia akan
setuju menjadi pacarku....

Aku bertanya," apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?

Mengapa kau selalu membisu?"

Dia berkata, "AKU menengadahkan kepalaku"...

"Ah?" Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar...

"Aku menengadahkan kepalaku" dia berteriak...

Kuletakkan telepon......melompat....berlari seribu
langkah...kerumahnya...

Dia membuka pintu bagiku...Ku peluk erat-erat tubuhnya...

"DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak memintanya
untuk tinggal?"

=======================================================

JIKA KAU MENGINGINKAN CINTA DARI SESEORANG...TUNJUKKAN CINTAMU!!!!

CINTA TIDAK MEMBUTUHKAN KERAGUAN...TUNJUKKAN SAJA!!!!
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Fri Mar 05, 2010 7:33 am

APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN?


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini,
"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan
semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya,
Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan
menciptakan
Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa
pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa
Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia
telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah
sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.
Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi
diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata
dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa
itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada.
Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita
pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk
memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai
panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.
Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di
ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak
perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut
adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah,
Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti
dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk
mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan.
Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari
ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Fri Mar 05, 2010 7:38 am

Kasih seorang Ibu... Sepanjang Masa

Si Budi adalah anak yang kebetulan terlahir cacad, satu dari dua
telinganya tidak memiliki daun telinga. Pada saat usianya mulai
menginjak lima tahun, Budi kecil sering sekali di ejek oleh
teman-temannya. Hingga Budi yang tadinya adalah anak periang belakangan
ini menjadi anak yang diam, pemurung, dan cenderung lebih suka
menyendiri. Kedua orang tua Budi begitu sedih melihat hal ini terjadi
pada anaknya. Ibunya yang begitu sayang padanya, kerap kali selalu
memotivasi si Kecil Budi untuk tidak malu dan rendah diri akan
kekurangannya tersebut. Namun usaha demi usaha yang dilakukan orang
tuanya sepertinya sia-sia belaka. Dari hari ke hari Budi semakin tidak
mengurung diri dan bertemu dengan teman-temannya.

Sampailah suatu ketika orang tuanya mengabari bahwa ada seorang dari surga yang
akan membantu Budi untuk memperbaiki daun telinganya melalui proses
operasi pencangkokan telinga... Budi kecil sangat bahagia sekali...
mendengar berita itu meskipun dalam hati ia bertanya-tanya
siapa gerangan orang ini dan apa bisa telinganya di cangkok menjadi
bagus seperti telinga yang satunya lagi.

Singkat cerita operasi itupun berjalan lancar dan sukses. Kini Budi memiliki dua telinga yang
normal seperti anak-anak lainnya. Dan tentu saja sejak saat itu Budi
kembali menjadi anak yang periang dan kembali aktif seperti sedia kala.
Akan tetapi didalam hati Budi ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Siapakah Gerangan orang dari Surga tersebut yang telah begitu mulia mau
mencangkokan telinga bagi dirinya. Namun setiap kali hal ini ditanyakan
pada kedua orang tuanya, Budi selalu mendapat jawaban “Sayang kelak
kamu akan tahu dengan sendirinya siapa orang itu.

Sampailah Budi kini sudah menjadi orang Dewasa yang sudah bekerja di luar daerah dan tinggal jauh
dari kedua orang tuanya.

Suatu ketika Budi begitu kaget mendapat berita bahwa Ibunya dalam kondisi
sakit keras dan Kritis. Segera saja Budi memutuskan untuk mengambil
cuti dan segera menengok ibunya. Sayang sekali begitu Budi tiba
dirumahnya Ibunya telah pergi mendahului untuk berpulang pada Tuhan
Yang Maha Kuasa.

Budi bagitu sedih, kaget dan yang membuatnya
lebih terpukul lagi manakala ia melihat Ibunya sedang dimandikan, dan
menemukan bahwa salah satu daun telinga ibunya tidak ada....., Budi
tidak pernah menyangka bahwa jika selama ini ibunya selalu memanjangkan
rambut adalah untuk menutupi salah satu telinganya yang telah ia potong
untuk di cangkokan pada dirinya. Budi mulai menitikkan Air Mata...
betapa ia tidak pernah mengetahui bahwa orang yang datang dari Surga
itu ternyata adalah ibunya sendiri dan kini tanpa sepengetahuannya pula
orang tersebut telah kembali lagi ke Surga tanpa Budi berada
disampingnya.

Sadarkah kita bahwa sesungguhnya begitu besar cinta
seorang ibu pada anaknya....apapun rela ia korbankan demi anaknya
tercinta....Ibu kita tidak pernah meminta apun sebagai imbalannya. Tapi
mengapa terkadang hanya untuk mendengarkan atau mengikuti nasehatnya
saja kita begitu sulitnya, meskipun sesungguhnya nasehat-nasehat itu
hanya untuk kebaikan hidup kita dan sama sekali bukan untuk kebaikan
ibu kita....
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Fri Mar 05, 2010 7:45 am

Burung GagaK

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru
menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di
halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.

Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok
berhampiran.

Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
"Nak, apakah benda itu?"

"Burung gagak", jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali
lagi mengulangi pertanyaan yang sama.

Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi
lalu menjawab dengan sedikit kuat,

"Itu burung gagak, Ayah!"

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan
yang sama.

Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan
pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu

menjawab dengan lebih kuat, "BURUNG GAGAK!!"

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali
lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga
membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada
yang kesal kepada si ayah, "Itu gagak, Ayah."

Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi
membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama.

Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi
marah.

"Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak.
Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut

dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang
Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak,
Ayah.....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si
anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi
dengan sesuatu di tangannya.

Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram
dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.

"Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary
ini," pinta si Ayah.

Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.

"Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur
lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon
berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan
bertanya, "Ayah, apa itu?"

Dan aku menjawab, "Burung gagak."

Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa
dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama.
Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa
cinta dan sayangku

aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga
untuk anakku kelak."

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat
muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu.

Si Ayah dengan perlahan bersuara, " Hari ini Ayah baru
bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau
telah hilang kesabaran serta marah."

Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di
kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.


Terakhir diubah oleh Dewi Salju tanggal Fri Mar 05, 2010 8:37 am, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Fri Mar 05, 2010 7:48 am

Engkau Tulang Rusukku.....

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut.
Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih?
Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat,
beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian.
Ya, tentang cinta.

Dara : "Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?"
Raka : "Kamu dong?"
Dara : "Menurut kamu, aku ini siapa?"
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti)
"Kamu tulang rusukku!
Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian.
Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa.
Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi
merasakan sakit di hati."

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat.
Setelah
itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing
dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan.

Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.
Mereka
mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada
suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah.
Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,
"Kamu nggak cinta lagi sama aku!"

Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak,
"Aku menyesal kita menikah!
Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"

Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah.
Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.

Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan.
Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.

Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah.
"Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi.
Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing. "

Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara.
Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula.
Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi
kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.

Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit
di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu.
Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan,
mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak
saling mau lepas.

Raka : "Apa kabar?"
Dara : "Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?"
Raka : "Belum."
Dara : "Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut."
Raka : "Aku akan kembali 2 minggu lagi.
Telpon aku kalau kamu sempat.
Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah.
Tidak akan ada yang berubah."

Dara tersenyum manis, lalu berlalu...." Good bye...."
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati.

Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya.
Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

*******************************************************************
Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai.
Dan akibatnya seringkali adalah fatal
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Fri Mar 05, 2010 7:57 am

Kisah Nyata : KEBESARAN JIWA SEORANG IBU


Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan elektronik.

Ada seorang pemuda bernama A Be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yang
cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat wanita-wanita yang
kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah
perusahaan swasta, dia sudah di promosikan ke posisi manager.
Gajinya pun lumayan.

Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.
Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat
banyak teman-teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari
kalangan cewek-cewek jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia
bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya
botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering.
Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai
seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita
tua ini betul-betul seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar
rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan
penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.

Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu
rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur,
cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan
perhatian yang besar kepada anak satu-satunya, A Be. Namun A Be adalah
seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang
cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap
kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat
dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut
Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya
tampung, kasihan,” jawab A be.

Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali.
Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang
keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan
mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu
hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A Be
mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian,
menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh
Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan
setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun
ada mahal sekali).

Hal ini membuat A be menjadi uring-uringan dirumah. Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak
lemari Ibunya, A Be melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada
sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti
dugaan A Be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik.
Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa
pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran.
Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei
kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita
menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak
terluka sedikitpun.

Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk
mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan
yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A Be.
Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata A Be
menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan koran
usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang
terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas
dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan
ketulusan hati anaknya. "Yang sudah-sudah Nak, Ibu sudah maafkan.
Jangan di ungkit lagi".


Setelah ibunya sembuh, A be bahkan
berani membawa Ibunya belanja kesupermarket. Walau menjadi pusat
perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini
menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini kedalam
media cetak dan elektronik.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Fri Mar 05, 2010 8:09 am

Ternyata Ayah Memang Benar-Benar MENAKJUBKAN


Ini adalah cerita tentang hidupmu sendiri, namun terkadang kau tidak menyadari cerita ini melekat pada dirimu...
Kau punya "permata" yang tak ternilai harganya. Namun, terkadang kau lupa memilikinya.
Itulah sebabnya, saya ceritakan kembali cerita ini. Agar Kau paham betapa "bermakna" nya "permata" itu.



Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya,
menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada
siapapun dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.
Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai.
Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil,
tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.
Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.
Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu
seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi memancing sebenarnya lebih
menyenangkan.
Ayah akan tetap memasang kereta api listrik mainanmu selama
bertahun-tahun, meskipun kamu telah bosan, karena ia tetap ingin kamu
main kereta api itu.
Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain
dengan teman-teman mereka. Karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil
mereka.
Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil, tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.
Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa
meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung
di atas air setelah ia melepaskanya.
Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.
Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi.
Ayah sulit menghadapi rambutnya yang mulai menipis…. jadi dia
menyalahkan tukang cukurnya menggunting terlalu banyak di puncak kepala
(*_~).
Ayah akan selalu memelihara janggut lebatnya, meski telah memutih, agar
kau bisa “melihat” para malaikat bergelantungan di sana dan agar kau
selalu bisa mengenalinya.
Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru.
Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.
Ayah benar-benar senang membantu seseorang… tapi ia sukar meminta bantuan.
Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke bengkel, karena ia merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya.
Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya
rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang
mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan
hasilnya?…. mmmmhhh…” tidak terlalu mengecewakan” (^_~).
Ayah akan sesumbar, bahwa dirinyalah satu- satunya dalam keluarga yang dapat memasak tumis kangkung rasa barbecue grill. (*_~).
Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.
Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam…
walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati.
Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.
Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.
Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.
Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau
memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa
tidak setujunya.
Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal
menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk mengantarkanmu
dihari pertama masuk sekolah

AYAH ITU MURAH HATI…..
Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan…. .
Ia membiarkan orang-orangan sawahmu memakai sweater kesayangannya. ….
Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan, dan ia akan menghabiskannya kalau kamu tidak suka…..
Ia menghentikan apasaja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara…
Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap
semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa
banyak kerutan di dahinya….
Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan
kebiasaan merokoknya.. .. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu
dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu….
Ayah akan berkata “tanyakan saja pada ibumu” ketika ia ingin berkata “tidak”.
Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin
Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepregok menghisap rokok dikamar mandi.
Ayah mengatakan “tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan”
Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya….
Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri….
Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau
meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak
akan pernah bisa melepaskannya.
Ayah mengira seratus adalah tip..; Seribu adalah uang saku..; Gaji pertamamu terlalu besar untuknya…
Ayah tidak suka meneteskan air mata …. ketika kamu lahir dan dia
mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang
sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan
menangis). Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir
rasa takutmu…ketika kau mimpi akan dibunuh monster… tapi…..ternyata dia
bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis
kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.
Kalau tidak salah ayah pernah berkata :” kalau kau ingin mendapatkan
pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar
apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai
besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu,jika kau ingin
mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang
Menciptakannya”
Untuk masadepan anak lelakinya Ayah berpesan: “jadilah lebih kuat dan
tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang
lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan
cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu”
Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan: “jangan cengeng meski
kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari
terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa
melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau
gantikan posisi Ayah di hatimu”
Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu….
Ayah bisa membuatmu percaya diri… karena ia percaya padamu…
Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik….
Dan terpenting adalah… Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai
Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat
menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.

Dan untuk semua yang sedang merindukan Ayah, ssssssssttt…!
Tahukah dirimu ???? Ternyata ayah memang benar-benar MENAKJUBKAN
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Salju Heaven
Staff Moderator
Staff Moderator


Libra
Points 1719
Reputation 19
Posts: 123
Birthday: 10.10.90
Join date: 06.02.10
Age: 23

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Fri Mar 05, 2010 8:29 am

Kalau Hidup Mau Berubah....Rubahlah Hidup....


KISAH YANG BENAR-BENAR INSPIRATIF !
Cerita ringan, dialog antara Ust. Yusuf Mansur dengan Security POM Bensin.
Agak panjang, tapi percaya deh enak kok dibacanya.
SEMOGA BERMANFAAT


Banyak yang mau berubah, tapi memilih jalan mundur. Andakah orangnya?
Satu hari saya jalan melintas di satu daerah. Tetidur di dalam
mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen
ke supir saya: “Nanti di depan ke kiri ya”. “Masih banyak, Pak Ustadz”.
Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan.
Saya pengen pipis. Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada
seorang sekuriti. “Pak Ustadz!”. Dari jauh ia melambai dan mendekati
saya. Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau. “Pak Ustadz,
alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di
TV saja.”. Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he. “Saya
ke toilet dulu ya”. “Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?” “Saya
buru-buru loh. Tentang apaan sih?”. “Saya bosen jadi satpam Pak
Ustadz”. Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang “berhentiin”
saya.

Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh
nemu pom bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya
kudu bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali “target operasi” dakwah
hari ini. Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya. Saya katakan
pada sekuriti yang mulia ini, “Ok, ntar habis dari toilet ya”.
***
“Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?”, tanya saya
membuka percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara
dengan beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada
minimart nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan. “Gaji mah
ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?”
“Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah
begitu. Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya”. “Wah,
ustadz langsung nembak aja nih”. Saya meminta maaf kepada sekuriti ini
umpama ada perkataan saya yang salah.
Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama
Allah ga mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya
begitu-begitu saja. “Udah shalat ashar?” “Barusan Pak Ustadz. Soalnya
kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga? Ya saya pikir sama
saja”. “Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ
adalah juga ibadah?” Sekuriti itu senyum aja. Disebut jujur mengatakan
itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar
menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma sebatas omongan
doangan. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang
kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai
ibadah.
Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah
wajibnya, tetap nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas,
ya disebut bohong dah tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya lagi, kita
niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya
boleh. Tapi kemudian kita menerima tamu sementara Allah datang. Artinya
kita menerima tamu pas waktu shalat datang, dan kemudian kita abaikan
shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian masihkah pantas disebut
usaha kita adalah ibadah?
Apalagi kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya
lebih sedikit ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu
dipikirin lagi tuh sebutan-sebutan ibadah. “Disebut barusan itu
maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5 nih masuk ke pom
bensin ini”, saya mengejar. “Ya, kurang lebih dah”. Saya mengingat diri
saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang ‘alim, bahwa
shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut perhatian
sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu.
Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.
Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu
kan jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu
saya ingatkan sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang
Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.
“Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk
mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu
setengah jam andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit.
Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian
dikalikan sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus,
maka berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu
dikali sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan
dikali lagi sekian tahun kita telat. Itu baru telat saja, belum kalo
ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau
bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja mestinya kita dari
senang”.
Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut
mukanya, nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga
saudara-saudara ya? He he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini
kudu nanya paham apa engga sama lawan bicara? Saya katakan pada dia.
Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan
selitingnya mah udah di mana, dia masih seperti diam di tempat. Bila
seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha, sementara yang
satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa jadi sebab
ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.
Dan saya mengingatkan kepada Anda sekalian untuk tidak menggunakan
mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan
cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan
yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya
susah. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup
kompleks. Tapi bisa diurai satu-satu dengan bahasa-bahasa kita,
bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat dengan fakta. Insya Allah
ada waktunya pembahasan yang demikian.
Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, “Terus, mau berubah?” “Mau
Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga
serius?” “Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya”. “Ngebut
gimana?” “Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat
asharnya. Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang
menjemput Allah. Jangan sampe keduluan Allah”. Si sekuriti mengaku
mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di atas sajadah.
Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang Bagi-bagiin
rizki.
Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini. Kan aneh. Dia pada
kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah
memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang
bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin klien,
rapih, wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah,
amit-amit pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan
menunjukkan wajah dan fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah.
“Yang kedua,” saya teruskan. “Yang kedua, keluarin sedekahnya”. Saya
inget betul. Sekuriti itu tertawa. “Pak Ustadz, pegimana mau sedekah,
hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga
terpaksa dibuka lagi,. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan”.
“Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?”
“Satu koma tujuh, Pak ustadz”.
“Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang
orang sering sebut orang kecil, itu udah gede”. “Yah, pan kudu bayar
motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini bayar itu. Emang ga
cukup Pak ustadz”. “Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?”
“Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama
kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz”.
“Koq bisa?” “Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos
pegimana gitu sampe ketemu angka 1,7jt”. “Terus, kenapa masih kurang?”
“Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak”. “Secara dunianya, lepas
aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan ga
perlu?” “Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz”. “Ya susah kalo begitu
mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya.
Bukan cara dan kebaikannya. Repot”. Sekuriti ini nyengir. Emang ini
motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu.
Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia
nutupin kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air
dan listrik. Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah
jadinya. “Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau
diubah?” “Mau Ustadz. Saya benahin dah”. “Bareng sama istri ya. Ajak
dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan berdua. Makin cakep kalo
anak-anak juga dikerahin. Ikutan semuanya ngebenahin shalat”. “Siap
ustadz”. “Tapi sedekahnya tetap kudu loh”. “Yah Ustadz. Kan saya udah
bilang, ga ada”. “Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq”. “Jangan
Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya. Tabungan juga
ga ada. Emas juga ga punya”.
Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi
saya akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya
saja, tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul.
Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak
lain. Ya lain soal itu mah. Sebentar kemudian saya bilang sama ini
sekuriti, “Kang, kalo saya unjukin bahwa situ bisa sedekah, yang besar
lagi sedekahnya, situ mau percaya?”. Si sekuriti mengangguk. “Ok, kalo
sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?”. Sekuriti ini ngangguk lagi.
“Selama saya bisa, saya akan jalanin,” katanya, manteb. “Gajian bulan
depan masih ada ga?” “Masih. Kan belum bisa diambil?” “Bisa. Dicoba
dulu”. “Entar bulan depan saya hidup pegimana?” “Yakin ga sama Allah?”
“Yakin”. “Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau”.
Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi
usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga
perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya.
Termasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha
dan tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk
baca Al Qur’an.
Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah. Shalat
Jum’at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu
dia aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati
dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana
Akuntansi! Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga
betah dengan posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai
sama rencana. Tapi ya begitu dah hidup. Apa boleh buta, eh, apa boleh
buat. Yang penting kerja dan ada gajinya.
Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan
itu keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga
apa-apa juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal
apa? Asal kita barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang
ini, biarin aja harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja
diri, agar mau menambah ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha.
Akhirnya hidup kemakan dengan tingginya harga,. Ga kebagian.
***
Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya
buat apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab,
Pol. Satu koma tujuh. Semuanya. “Mana bisa?” kata komandannya.
“Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya berani”.
Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini
jawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya. Singkat cerita,
sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama ownernya ini
pom bensin. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan 30% aja
belum tentu lolos cepet. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui. Sebab
komandannya ini ikutan merayu, “Buat sedekah katanya Pak”, begitu kata
komandannya.
Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab
cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah
pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya.
Termasuk dinanti oleh bos nya. “Kita coba lihat, berubah ga tuh si
sekuriti nasibnya”, begitu lah pemikiran kawan-kawannya yang tahu
bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat
dan sedekah.
Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul
shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah
sunnahnya. Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat
kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh
begini. Apalagi kenyataannya si
sekuriti ga mengurangi kedisiplinan kerjaannya. Malah tambah cerah
muka nya. Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya
Allah. Dan dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya,
menantang ledekan kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan
sedekah, asal dengan catatan dia berhasil dulu.
Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan
apa-apa, saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah
tidak akan tinggal diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat
perubahan nasib si sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan
uswatun hasanah bagi yang belum punya iman. Dan saya pun tersenyum
dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan mempermalukannya juga,
sebagaimana Allah tidak akan mempermalukan si sekuriti.
Suatu hari bos nya pernah berkata, “Kita lihatin nih dia. Kalo dia
ga kasbon saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka
kelihatannya dia gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan
yang diambil di muka, kalau kemudian kas bon. Percuma”. Tapi
subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.
Berhasil kah? Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor
besarnya lagi. Jadi, tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka
barangkali aman sebab jual motor. Bukan dari keajaiban mendekati Allah.
Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu
urusan yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya. “Bener nih, ga kasbon?
Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian. Sedang situ kan udah
diambil bulan kemaren”.
Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon
kalo ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian
cerita si sekuriti ini benar-benar bikin bengong orang pada. Sebab apa?
Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia sedekah
besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya di
bulan depan yang dia pertaruhkan, trjadi keajaiban. Di kampung, ada
transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya ga trlibat
secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual.
Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan
lebih.
Dia sedekah 1,7jt gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi
penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu trjadi begitu
cepat. Sampe-sampe bulan kemaren juga belum selesai. Masih tanggalan
bulan kemaren, belum berganti bulan. Kata si sekuriti, sadar
kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu sama Allah. Motornya
yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya melek-melek buat
sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin satu-satunya ibunya
yang masih hidup. Subhaanallaah kan? Itu jual motor, kurang. Sebab itu
motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta. Tapi dia tambahin 12
juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya punya 25 juta.
Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.
Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5
juta lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang
ini, ia aman. Ga perlu kasbon. Mendadak si bos itu yang kagum. Dia
lalu kumpulin semua karyawannya, dan menyuruh si sekuriti ini
bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah
ini. Apakah cukup sampe di situ perubahan yang trjadi pada diri si
sekuriti?
Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin
tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan
si owner yang lain, dan dijadikan staff keuangan di sana. Masya Allah,
masya Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah. Saudara-saudaraku
sekalian. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan
Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman seseorang kepada
Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja
menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan!
Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia
baru sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini
dipake sama dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat
perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya. Subhaanallaah, masya
Allah. Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil
keluar sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini?
Kayaknya kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti
jejak suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih
dikenang sebagai sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi
pada rutinitas dunia.
Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia
pembelajar. Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta
KuliahOnline yang saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak
Saudara? Biasa sajakah? Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang
dimaksud? Di mana pom bensinnya? Bisa kah kita bertemu dengan orang
aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya juga buat saya tidak gampang
menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang
berbeda. Di antara semua peserta
KuliahOnline saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini.
Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya lagi
memilih menceritakan ini kepada satu dua orang saja, dan hanya
orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk
dicontoh. Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang buat
seseorang menempatkan dirinya untuk menjadi contoh. Yang lebih penting
buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini mengisnpirasikan
kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja kisah ini.
Kita ngebut ngebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak, sudah,
jangan terus-terusan meratapi dosanya.
Kejar saja ampunan Allah dengan memperbanyak taubat dan istighfar,
lalu mengejarnya dengan amal saleh. Persis seperti yang
kemaren-kemaren juga dijadikan statement esai penutup.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
sp0ngebob
Staff Moderator
Staff Moderator


Taurus
Points 1670
Reputation 13
Posts: 29
Birthday: 14.05.91
Join date: 09.02.10
Age: 22
Location: Bogor

PostSubyek: Belajar Dari Finlandia   Tue Mar 09, 2010 6:13 pm

bingung mau dimasukin kemana... thread ni kali ye... Smile
Ini sebenarnya perjalanan 4 tahun lalu, sayang kalau dilewatkan
begitu saja, paling tidak dapat berbagi dengan para pembaca di Tanah
Air ataupun dengan sahabat di mana saja berada, bukankah kemana saja
kita melangkah tetap di bumi Allah, ke mana saja negara yang kita
kunjungi adalah negara yang berdiri di bumi Allah juga. Kisahnya
dimulai setelah selang sehari Hari Raya Idul Fitri 1427 H, tgl 25
Oktober 2006 jam 13.00 wm berangkatlah aku dan rombongan menuju Bandara
Sheremetyevo 2 untuk terbang ke negara Finlandia dengan pesawat
Aeroflot.
Dengan Bismillah, aku mulai melangkah kaki menuju negara di Utara
Russia, negara yang lebih makmur dan lebih segalanya dari Rusia,
terutama kebersihan dan kerapihannya, negara " Nokia" Dengan waktu
penerbangan kurang dari 2 jam, sampailah aku dan rombongan di Helsinki
di Bandara yang serba berbeda dengan Bandara Sheremetyevo 2.
Oya, jangan lupa, negara “ Nokia” ini punya peranan dalam sejarah
Indonesia, yaitu dengan di tandatanganinya perjanjian damai antara
Indonesia dengan GAM pada tanggal 15 Agustus 2005, nah setelah itu
komplik yang berkepanjangan antara Indonesia dengan GAM berakhir sudah.
Dan perlu juga diketahui bahwa perusahaan HP Nokia, asalnya adalah
pabrik ban mobil !
Hebat ya… cara berpikir mereka, karena pabrik ban mobil, sebagus
apapun ban tersebut, tak akan beranjak dari bunder ! Jadi kreatifitas
manusia “kepentok” bila hanya membuat ban mobil, yang apapun pabriknya,
jenis apapun orangnya, ban tetap bunder. Nah makanya mereka banting
stir dan membaca peluang di era komunikasi dan informasi, dengan
membuat HP ternyata perdiksi mereka benar, dengan membuat HP mereka
berkarya seluas-luasnya, seakan tak habis-habisnya menemukan ide-ide
baru untuk membuat HP model terbaru dengan fasilitas sebanyak mungkin.
Kembali ke perjalanan, di bandara Sheremetyevo 2 , masih saja
kelihatan tegang, walaupun komunis sudah terkubur 15 tahun di negara
beruang merah ini, tapi pemeriksaan di bagian imigrasi Bandara masih
tak jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, kaku, tegang, lama,
berbelit-belit dsb. Suasana seperti tak di jumpai di Bandara Helsinki,
walau ada yang agak lama, tapi tidak tegang, tidak kaku, tidak
berbelit-belit, suasananya santai dan terbuka.
Suasana begitu berbanding terbalik dengan sebelumnya, dari Moskow
keluar dengan penuh harap-harap cemas dan masuk ke Helsinki ada rasa
tentram dan tenang, padahal ke Helsinki baru pertama kali dalam hidup
ini, namun suasanannya sudah terasa begitu akrab.
Beda sekali dengan di Moskow tempat aku tinggal sekarang, suasananya
tetap kurang senyaman, tetap saja kaku, tetap aja bikin was-was, tetap
aja orang asing di tanya bolak-balik, " mana dokumen ?" itu pertanyaan
di Moskow, walaupun kita hanya ke luar ke toko untuk belanja, padahal
toko tersebut hanya 50 meter dari rumah/flat/apartement, tetap saja
polisi di Moskow akan bertanya, "mana dokumen ? " dan pertanyaan yang
sama akan kita jumpai ditempat-tempat yang berbeda, apa lagi kalau kita
berjalan sendirian. Tapi pertanyaan yang sama tidak pernah kita jumpai
selama Di Finland/Helsinki. Beda banget !
Setelah pemeriksaan pasport dan semuanya tak ada masalah, aku dan
rombongan 11 orang Menunggu teman yang akan jemput di Bandara, kurang
lebih 1 jam maka datanglah teman dari Helsinki dengan dua kendaraan
menjemput di Bandara. Alhamdulillah, lagi-lagi suasana di perjalanan
dari Bandara menuju Hotel di tengah-tengah kota Helsinki, suasananya
berbeda sekali dengan suasana kota Moskow. Dari Bandara ke pusat kota,
nyaman, tenang, tak ada kemacetan.
Di kota Helsinki yang kelihatan serba rapi, di jalan-jalan sudah
dibuat begitu tertib, ada jalan untuk mobil, trem, pengandara sepeda,
pejalan kaki yang yang berjalan di jalan-jalan yang sudah disediakan
bagi masing-masing, sehingga antara pengendara satu dengan yang lainnya
tak saling ganggu, semuanya berjalan sesuai dengan jalurnya
masing-masing, kelihatan begitu tertib dan disiplin. Suasana Eropa
barat terasa sekali, suasana negara yang makmur sangat terlihat
disepanjang jalan.
Malam di Helsinki, Malam di Hotel Scandik di jantung kota Helsinki,
dengan bayaran semalam 265 Euro (+- $ 400 ) malam yang indah dengan
dingin malam yang menggigit, karena angin dingin dari utara berhembus
kencang , bayaran hotel yang muahal ....... untuk ukuran orang-orang
sepertiku .... tak membuat kecut, tapi tetap gembira.
Setelah check in di hotel kami semua diajak jalan-jalan dan makan
malam di restoran, restoran milik orang Singapur dan Malaysia, tak jauh
dari hotel. Perut yang lapar karena dingin... menambah semangat makan
dan yang di hidangkan, bakso yang terkenal sampai ke Moskow, bakso yang
selalu menjadi oleh-oleh orang KBRI Moskow yang ke Finland, bakso yang
lezat dan legit, bakso yang sangat aku sukai, Alhamdulillah, jauh-jauh
keluar negeri, dari Moskow ke Helsinki, eh masih ketemu makanan yang
menjadi hobyku, bakso !
Sehabis makan malam di restoran Singapur-Malaysia ( mungkin
pengusahnya joint, karena nama negara mereka di pakai dua-duanya ),
kita kembali ke hotel, kemudian jalan-jalan malam di sekitar hotel.
Angin dingin berhembus sepanjang jalan-jalan di sekitar hotel Scandik,
angin dingin yang menggigit tulang tak dihiraukan, malam ini harus
dinikmati, karena tak setiap malam, malam seperti ini akan ku jumpai
dihari-hari berikutnya. Ini kesempatan berjalan di bumi Tuhan yang
lain, di salah satu negara skandinavia. Bumi Tuhan luas, dan setiap
negeri mempunyai ke khas masing-masing. Dan ke khasan itu menjadi ciri
masing-masing tiap negara, maka berjalanlah kamu di muka bumi,
lihatlah... di sana akan kamu temukan ayat-ayat Tuhan, di sana akan
kamu temukan tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Setelah jalan-jalan malam disekitar hotel dan menjelang tengah
malam, kami mulai masuk ke hotel untuk beristirahat, manikmati ruang
hotel yang bayaranya semalam bisa untuk membayar uang kuliah beberapa
semester atau bisa untuk modal dagang kecil-kecilan atau kalau
dibelikan cendol, bisa mandi cendol berbak-bak !
Besok harinya kami berjalan-jalan di pusat kota Helsinki, walau kota
ini di ujung utara yang dipisahkan dengan Eropa, namun gaya arsitektur
gedung-gedungnya mirip dengan negara-negara Eropa lainnya, bangunan
yang dipenuhi gaya-gaya kuno, namun terjaga apik, bersih dan kokoh.
Biasa, setiap gedung di Eropa memang penuh dengan relief, tidak polos,
penuh dengan kreasi kembang atau daun, dengan warna rata-rata coklat
muda kehitaman. Di sentral stasiun kereta apinya ( yang berhubungan
Moskow ) malahan dominasi hitam. Di tengah taman dekat Mall Stocman,
ada 4 patung pekerja laki-laki yang sedang mengayunkan palu besarnya.
Patung ini menggambarkan kerja keras dalam hidup, sayang, patung
yang di buat dari bahan baja hitam ini, maaf, telanjang, benar-benar,
maaf, telanjang sepenuhnya. (sebenarnya pekerja kan , bisa pakai baju,
tapi kenapa di buat telanjang? ) Ya itulah Eropa, dengan alasan seni,
patung-patung kebanyakan di buat telanjang. Wah, kalau patung ini di
Indonesia atau di buat di Indonesia, pasti sudah di demo, tak ada
alasan seni, kalau mengumbar aurot, walau itu hanya patung, pakainkan
baju !
Penampilan keseharian penduduk Finlandia, ramah, supel dan enak
diajak ngobrol. Rata-rata memang demkina masyarkat Eropa, khususnya
Eropa Barat dan Utara, namun di Eropa Timur, karena mungkin eks
komunis, wajahnya kebanyakan surem, kurang bersahabat dan ada kesan
mencurigai orang asing, Tapi itu tak semuanya, ada juga yang baik,
bersahabat dan ramah dengan orang asing. Oya, di Mall Central, ada yang
menarik, di tengah gedung ini, di lantai dasarnya, ditulis letak
astronominya, lengkap dengan garis lintang dari bujur, dengan derajat,
menit dan detiknya. Jadi dengan membaca letak astronominya, kita
langsung bisa mencocokan dengan Atlas atau peta yang kita bawa sebagai
wisatawan. Uniknya lagi, letak astronomi yang di pahat itu searah
dengan puncak gedung yang dibuat kerucut.
Nah di Mall sentral ini, bila lapar, jangan takut, ada nasi kebuli
dari Turky atau Libanon, yang kalau ukuran kita orang Indonesia
sepiringnya bisa untuk tiga orang ! Kita semua kaget, ya ampun … gimana
makannya nih ? Nasi sebanyak itu disediakan untuk satu orang, ya satu
orang satu piring besar (persis senampan/baki, kalau di kita Indonesia
), padahal kita tahu, makannya orang Indonesia kebanyakan sedikit,
apalagi untuk perempuan. Ya udah…. Sikat aja, kebetulan habis
jalan-jalan, kan lapar tuh, apa lagi anginnya dari utara… wah lumayan,
bikin perut keroncongan. Yang sudah kita “sikat” juga tuh nasi kebuli ,
yang sedang mengepul hangat-hangat. Alhamdulillah… nikmat banget !
Selesai makan siang, perjalanan di lanjutkan, karena memang Helsinki
kotanya kecil, tak sebesar Moskow, maka jalan-jalan sepertinya lebih
kecil, dibandingkan jalan-jalan yang ada di Moskow, bedanya di Helsinki
jalan lebih tertib, uniknya hampir disetiap toko besarnya, disediakan
parkir untuk sepeda , dengan gambar sepeda bercat putih, yang di gambar
di atas aspal di tempat perkir tersebut. Dan jalan untuk bersepedapun
di buat khusus, mobil atau pejalan kaki dilarang menggunakannya,
pejalan kaki punya jalan sediri, mobil dan trempun demikian, pokoknya
punya jalan masing-masing dan jangan saling mengganggu jalanan orang.
Oya, mengenai sampah tak terlihat berceceran di jalan, karena memang
sudah sangat tertib, hampir setiap beberapa meter ada tong sampah yang
tertata rapih. Dan kalau kita masuk kedalam toko, tak disediakan tong
sampah, agar orang tak membuang sampah di dalam toko atau mall. Lalu
gimana kalau punya sampah bekas makanan ? ya di kantongi dulu sementara
atau di masukan ke tas masing-masing, nanti di luar took, baru di buang
di tong sampah. Setelah berkeliling kota, kami kembali ke hotel scandik.
Kalau di lihat kebersihannya di Helsinki, saya jadi malu hati, kan
mereka bukan mayoritas muslim, mereka mungkin tidak mengenal hadist “
Annadzopatu minal iman = kebersihan itu sebagian dari Iman “ tapi
mengapa mereka bisa hidup bersih ? Loh di kita, Indonesia, yang
mayoritasnya muslim… ya ampun…. Kebersihan nyaris tak di perhatikan,
buang sampah sembarangan. Loh Imannya pada dikemanakan ? Perlu terus
ditumbuhkembangkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Dari cerita di atas apa sih yang bisa kita pelajari dari Finlandia, khususnya Helsinki ? Ada beberapa, antara lain :

  1. Kebersihan kotanya alias jangan membuang sampah sembarangan
  2. Memberikan hak bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda di jalan yang disediakan khusus
  3. Budaya tertib dan antri di manapun
  4. Menyediakan parkir bukan hanya untuk mobil, tapi juga untuk sepeda
  5. Lebih banyak menggunakan kantong belanja dari kertas di banding dari plastic
  6. Jangan takut merubah kebiasaan alias berani berinovasi

Sorenya, kami siap-siap untuk menuju Ke Swedia, inipun perjalanan
yang menarik, karena kita akan menaiki kapal laut yang tingginya 13
tingkat, yang kalau orang bilang “ hotel terapung” bayangkan hotel
terapung dengan ketinggianya mencapai 13 tingkat ! Untuk perjalanan
berikut, Yaitu dari Filnadia menuju Swedia akan di sambung lain waktu.
Terima kasih.sourceeramuslim
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
sp0ngebob
Staff Moderator
Staff Moderator


Taurus
Points 1670
Reputation 13
Posts: 29
Birthday: 14.05.91
Join date: 09.02.10
Age: 22
Location: Bogor

PostSubyek: Re: Cerita-Cerita Menginspirasi   Tue Mar 09, 2010 8:59 pm

Satu lagi ah........
Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya.

Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak.

Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat

membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya.

Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.

Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air,

"Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu." "Kenapa?" tanya si tukang air.

"Kenapa kamu merasa malu?" "Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita.

Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan.

Itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita.

Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias dunianya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu.

Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.

Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 

Cerita-Cerita Menginspirasi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» Cerita Dewasa TANTE HAUS NGESEX Txt
» Cerita Perkosa Anal Ibu Mertua Yg Gemuk
» Hinata's Forune Wheel
» Round 2:Shiro Takahasi V.S. Konachan Hinata

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Journey To The West Official Forum Site :: ETC :: Lounge :: Share-